Senin, 02 Desember 2019

Pelacur


Deru ramai mesin bermotor berdesak-desakan di atas aspal. Mereka saling mendahului, menyongsong senja. Di persimpangan lampu merah suara klakson saling bersautan menggema di udara hampa, menyuarakan “Aku hendak pulang!”. Ufuk barat telah menjemput mentari sore dari panggungnya.

Silek


            Silek memandangi selembar kertas ulangannya yang sudah lecek. Di atas kertas tersebut tertulis angka tiga puluh yang dilingkari pena merah. Kini pandangan Silek terpaku pada sebuah gubuk dari jarak seratus meter  yang atapnya mengepul asap putih. Silek berjalan pelan sambil menggenggam kertas dengan senyum lebar. Ia mendorong perlahan pintu dari kayu yang sudah lapuk hingga menimbulkan suara berdecit.

Untuk Kamu


UNTUK KAMU, JODOHKU
Teruntuk kamu, yang saat ini sedang duduk denganku di teras rumah pagi-pagi sekali, sambil menikmati teh hangat buatanmu. Saat kamu baca surat ini aku tengah menggenggam erat tangan keriputmu dengan gemetaran. Aku hanya ingin menyampaikan tiga hal saja kepadamu.