Deru
ramai mesin bermotor berdesak-desakan di atas aspal. Mereka saling mendahului,
menyongsong senja. Di persimpangan lampu merah suara klakson saling bersautan
menggema di udara hampa, menyuarakan “Aku hendak pulang!”. Ufuk barat telah
menjemput mentari sore dari panggungnya.
Kini langit temaram memayungi kota
Solo, nyala lampu jalanan, puluhan tenda gerobak angkringan sudah siap sedia
memayungi siapa saja yang ada di bawahnya. Pun pada rumah-rumah di dalam gang
di belakang terminal, yang selalu siap sedia menyediakan kehangatan untuk para
pekerja yang pulang malam atau pun sengaja pulang malam bahkan kelewat pagi.
Sekedar untuk mampir dipijat atau diajak naik ke langit. Di dalam sebuah bilik
tripleks yang remang, berdiri seorang wanita setengah baya yang tengah bersolek
di depan kaca. Ia memoles setiap inchi dari bibirnya dengan ramuan merah
pemikat, dan tak lupa juga menaburi pipinya dengan bedak. Celana legging ungu ketat
berpasangan dengan sebuah kaos lengan pendek hijau yang sangat ketat pula. Tak
lupa ia semproti tubuhnya dengan aroma wangi parfum isi ulang. Sekali lagi ia
memperhatikan setiap sudut dari wajahnya di kaca. Sembari berlenggok ke kiri
dan kanan, memperlihatkan lekukan tubuh yang sangat pas tercetak oleh
pakaiannya. Ia masih seorang gadis seksi seperti dua puluh tahunan yang lalu.
Setidaknya, seperti itulah dirinya di kepalanya. Lissa sudah siap untuk
menjalankan bisnisnya malam ini. Kini namanya adalah Lissa, karena nama Suratmi
dianggapnya terlalu kuno dan tidak akan mampu menarik lelaki di zaman sekarang.
Ia
berjalan keluar bilik. Di muka rumah sudah duduk seorang wanita setengah baya
juga yang tengah duduk di bangku panjang. Handayani tengah menghisap sebatang
rokok mild sembari memperhatikan jalanan remang belakang terminal.
“Sudah
molek saja penampilanmu, Lis.” Sapa Handayani yang menoleh ke arah Lissa.
“Iyalah,
hari ini aku habiskan buat modal besok. Pokoknya harus ramai.”
“Ahh
enggak usah berharap banyak, semakin ke sini semakin jarang saja yang mampir.”
“Iya
juga sih, kalah sama yang muda kita.”
Lalu
gelak tawa pecah di antara mereka. Menertawakan zaman yang semakin gila, dan
pula hidup mereka yang ikut menggila. Dua wanita kupu-kupu malam belakang terminal. Begitulah setiap
kota, ada bagian indahnya, ada pula bagian indahnya yang dipaksakan. Realita
yang terpaksa mereka jalani. Bagi mereka, hidup bukanlah pilihan, melainkan
sebuah keterpaksaan atau kesukarelaan. Mereka terpaksa menjalaninya, namun juga
harus mereka biasakan menyukainya. Penyesuaian bukanlah dari apa yang tak
mereka miliki, namun dari apa yang mereka miliki.
Berjam-jam
mereka menanti tuan berkantung tipis melintas sambil melempar senyum manis. Tak
perlu mahal untuk jasa mereka, cukup selembar kertas biru saja sudah mereka
lakukan dengan sepenuh hati. Semuanya mereka kerjakan sendiri. “Terima beres”
kalau mereka bilang. Di antara candaan Handayani dan Lissa, sebenarnya mereka
saling menyimpan keresahan yang sama. Apakah suatu hari nanti, putri-putri
mereka akan ikut seperti mereka. Terkadang mereka malu sendiri ketika anak
mereka bertanya, “Ibu kerja apa?” atau saat anak mereka ditanyai guru mereka
soal pekerjaan orang tua. Atau bahkan pertanyaan yang pasti tak mampu mereka
jawab, “Ayah di mana?”. Mereka tak pernah siap dengan semua itu.
Jika
memang benar hidup adalah pilihan seperti yang orang-orang bijak berpenampilan
necis katakan di dalam televisi, mereka tentu akan memilih untuk hidup biasa
saja. Punya keluarga yang harmonis dan pekerjaan yang tentu lebih manis. Pembantu
rumah tangga atau bahkan buruh cuci pun tak apa, asalkan bukan yang seperti
sekarang ini. Untuk sekarang pun, mereka masih mengharapkan hal itu. Andai saja
ada satu kesempatan untuk mempertaruhkan hidup mereka agar dapat hidup normal
tanpa harus bersolek bedak tiap malam, sudah pasti mereka pertaruhkan semuanya
pada taruhan itu. Apa pun rela mereka gadai demi kata “Normal” di masyarakat.
Namun untuk sekarang, mereka hanya pasrah, menjalani hidup tidak normal yang
harus mereka biasakan. Mungkin satu tahun lagi, atau sepuluh tahun lagi, atau
bahkan sampai mati, mereka hanya pasrah. Bagi mereka, roda tak berputar. Roda
sedang macet. Yang mereka resahkan sehari-hari pun hanyalah sekedar perkara
besok bisa makan atau tidak. Jika kata ulama bahwa hidup itu harus tawakal,
kalau mereka mendengarnya, mereka hanya tertawa. Mereka terlalu profesional
dalam hal itu.
Kalau
saja sedang ramai sedikit, hari itu pula pasti akan habis. Untuk bedak,
peralatan tempur memikat, dan bayar ini itu ke preman setempat. Belum lagi
kalau ada pemeriksaan. Mereka harus merogoh uang lebih, agar dapat perlindungan
untuk tidak ikut bermalam di sel tahanan. Malam itu mereka sangat sepi. Tak
satu pun hidung belang datang membawa uang meminta kasih sayang. “Sedang
harmonis di rumah mungkin.” Kelakar mereka setiap kali sedang sepi pembeli.
“Pekerjaan seperti ini sangat susah promosinya.” Kelakar kembali keluar, lalu
mereka tertawa lagi.
Kini
Lissa sedang di atas ranjang, mengelus-elus rambut panjang putrinya yang sedang
bermain boneka usang. Sembari ia menyanyikan tembang-tembang Jawa untuk
pengantar tidur putrinya. Mungkin karena suara merdu Lissa atau mungkin karena
lelahnya, kini putrinya mulai terlelap anteng
dalam pelukan Lissa. Lissa hanya tersenyum pahit, membayangkan betapa lapar
putrinya seharian ini. Hanya makan sepotong roti warung. Menetes air matanya
yang semakin erat mendekap putrinya. Kini harapannya bukan lagi besok ramai
atau pun dapat lotere lagi, melainkan “Besok harus lebih baik lagi.”
Matahari
pagi sudah menyelinap masuk melalui sela-sela dinding tripleks yang sudah
bolong. Menghangatkan pelukan Lissa ke putrinya. Hal selanjutnya yang biasa
Lissa lakukan adalah bangun lebih dulu, membeli sarapan untuk putrinya,
mendadani putrinya setelah selesai mandi, dan melepasnya untuk bersekolah. Iya,
bersekolah mungkin adalah hal yang bisa membuat hari esok lebih baik lagi. Jika
benar ada Tuhan yang mengatur segalanya, dan aku yang bekerja seperti ini digariskan,
meskipun tak diizinkan, pasti Tuhan punya garis yang lebih baik esok hari.
Bukan untukku pun tak apa, asal itu untuk putriku- Zahra. Begitu pikiran Lissa.
Deru
suara motor mendekati rumah Lissa dan kemudian berhenti tepat di depan rumah.
Suara ketukan pintu membangunkan Lissa dari tidurnya siang itu di tikar di
ruang tamu. Lissa beranjak dari tidurnya dan mengikat rambut panjangnya seraya
berjalan membukakan pintu. Didapatinya seorang lelaki berumur tiga puluhan yang
memakai peci dan baju koko putih berdiri tersenyum di depannya. Ormas mana lagi
ini? Batin Lissa. Dipersilahkannya masuk dan dituntun menuju ruang tamu. Ia
duduk bersila di depan Lissa. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar darinya
selain senyum yang terus-terusan ia pasang.
“Aku Hartadi.”
“Hartadi?” Tanya Lissa sembari
mengingat-ingat nama familier itu di kepalanya.
“Iya, anak pak Jali.”
“Pak Jali?” Nama yang kembali
familier di ingatannya.
“Tetanggamu dulu, di Tuban.”
Tuban,
adalah kata terakhir yang ingin Lissa dengar di telinganya setelah kata mati.
Itu adalah tempatnya tinggal dulu. Tempat ia menghabiskan masa kecil dan
mudanya sebagai gadis paling cantik di kampungnya. Tempat di mana dunianya
masih teramat baik-baik saja. Sebelum perjodohan yang dipaksakan merenggut
semua kebebasan dan kebaik-baik sajaan itu darinya. Seketika, semua hal yang ia
ingat dari Tuban yang selama ini ia coba lupakan terpancar jelas di pikirannya.
Pak Jali, tetangga samping rumah yang sering memberinya buah mangga di depan
rumahnya kepada Lissa saat pohonnya berbuah. Lalu Hartadi, remaja laki-laki
yang sering bermain dengannya di persawahan belakang desa, remaja laki-laki
yang paling dekat dengannya. Lelaki yang dianggapnya sebagai bocah karena
umurnya terpaut lima tahun darinya. Meskipun dianggapnya sebagai bocah, tetapi
Hartadi adalah satu-satunya hal yang ia sukai dari Tuban di masa lalunya. Dan
kini masa lalunya sudah sedewasa ini, bertamu membawa semua ingatan hanya
dengan kata Tuban yang keluar dari mulutnya.
“Oh! Iya, Hartadi, dik Har kan?”
“Iya, syukurlah mbak mengingatnya.”
Sahutnya tersenyum.
“Ada perihal apa bertamu sejauh
ini?”
Hartadi
diam sejenak, sebelum akhirnya menjawabnya. “Mbak masih ingat omonganku sore
itu? Dua puluh tiga tahun yang lalu, di terminal.”
Pertanyaan
yang nyaris membuat Lissa tersedak ludahnya sendiri. Ia kembali teringat akan
semua hal dan percakapan di terminal sore itu. Saat ia sudah mantap
meninggalkan kampungnya demi kabur dari perjodohan.
“Kamu yakin, mbak Mi?”
“Sangat yakin, dik!”
“Lalu aku bagaimana, mbak Mi?”
“Kamu lakukan saja apa yang kamu
suka, dik. Sudah tidak ada urusannya denganku.”
“Tapi aku-“
Belum
sempat Hartadi melanjutkan kalimatnya, teriakan kondektur bus sudah menyelanya.
Membuat Suratmi berjalan meninggalkan Hartadi yang hanya berdiri. Suratmi sudah
masuk, duduk di bangku bus dengan menggenggam erat ikatan rafia di kardusnya.
Air matanya leleh. Ia tak berani menoleh ke jendela. Ia terlalu takut melihat
wajah Hartadi yang berdiri di bawah jendelanya. Hingga akhirnya bus itu
perlahan melaju. Lalu Hartadi berlari di samping jendela. Matanya pun
melelehkan air mata. Saat bus hendak melewati gerbang terminal, ia berteriak
sekuat tenaga.
“Aku
akan menikahimu! Aku mencintaimu, Suratmi!”
Suratmi
semakin deras saja mengucurkan air matanya mendengar teriakan Hartadi itu.
Kini,
teriakan itu kembali segar berdengung di kepalanya, seolah Hartadi yang sedari
tadi hanya tersenyum itu kini tengah berteriak keras di hadapannya. Air mata
sudah leleh dari matanya. Hartadi, remaja yang berteriak akan menikahinya kini
sedang duduk di hadapannya. Lalu sebuah ketukan pintu menyadarkan Lissa dari
tangisnya. Suara dari Zahra membuatnya mengusap air matanya. Buru-buru ia
berdiri dan menghampiri Zahra. Memeluknya dengan erat, lalu menoleh ke Hartadi
yang masih saja tersenyum. Lalu Hartadi mendekat dan mengelus rambut Zahra.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar