Senin, 02 Desember 2019

Pelacur


Deru ramai mesin bermotor berdesak-desakan di atas aspal. Mereka saling mendahului, menyongsong senja. Di persimpangan lampu merah suara klakson saling bersautan menggema di udara hampa, menyuarakan “Aku hendak pulang!”. Ufuk barat telah menjemput mentari sore dari panggungnya.
Kini langit temaram memayungi kota Solo, nyala lampu jalanan, puluhan tenda gerobak angkringan sudah siap sedia memayungi siapa saja yang ada di bawahnya. Pun pada rumah-rumah di dalam gang di belakang terminal, yang selalu siap sedia menyediakan kehangatan untuk para pekerja yang pulang malam atau pun sengaja pulang malam bahkan kelewat pagi. Sekedar untuk mampir dipijat atau diajak naik ke langit. Di dalam sebuah bilik tripleks yang remang, berdiri seorang wanita setengah baya yang tengah bersolek di depan kaca. Ia memoles setiap inchi dari bibirnya dengan ramuan merah pemikat, dan tak lupa juga menaburi pipinya dengan bedak. Celana legging ungu ketat berpasangan dengan sebuah kaos lengan pendek hijau yang sangat ketat pula. Tak lupa ia semproti tubuhnya dengan aroma wangi parfum isi ulang. Sekali lagi ia memperhatikan setiap sudut dari wajahnya di kaca. Sembari berlenggok ke kiri dan kanan, memperlihatkan lekukan tubuh yang sangat pas tercetak oleh pakaiannya. Ia masih seorang gadis seksi seperti dua puluh tahunan yang lalu. Setidaknya, seperti itulah dirinya di kepalanya. Lissa sudah siap untuk menjalankan bisnisnya malam ini. Kini namanya adalah Lissa, karena nama Suratmi dianggapnya terlalu kuno dan tidak akan mampu menarik lelaki di zaman sekarang.
Ia berjalan keluar bilik. Di muka rumah sudah duduk seorang wanita setengah baya juga yang tengah duduk di bangku panjang. Handayani tengah menghisap sebatang rokok mild sembari memperhatikan jalanan remang belakang terminal.
“Sudah molek saja penampilanmu, Lis.” Sapa Handayani yang menoleh ke arah Lissa.
“Iyalah, hari ini aku habiskan buat modal besok. Pokoknya harus ramai.”
“Ahh enggak usah berharap banyak, semakin ke sini semakin jarang saja yang mampir.”
“Iya juga sih, kalah sama yang muda kita.”
Lalu gelak tawa pecah di antara mereka. Menertawakan zaman yang semakin gila, dan pula hidup mereka yang ikut menggila. Dua wanita kupu-kupu  malam belakang terminal. Begitulah setiap kota, ada bagian indahnya, ada pula bagian indahnya yang dipaksakan. Realita yang terpaksa mereka jalani. Bagi mereka, hidup bukanlah pilihan, melainkan sebuah keterpaksaan atau kesukarelaan. Mereka terpaksa menjalaninya, namun juga harus mereka biasakan menyukainya. Penyesuaian bukanlah dari apa yang tak mereka miliki, namun dari apa yang mereka miliki.
Berjam-jam mereka menanti tuan berkantung tipis melintas sambil melempar senyum manis. Tak perlu mahal untuk jasa mereka, cukup selembar kertas biru saja sudah mereka lakukan dengan sepenuh hati. Semuanya mereka kerjakan sendiri. “Terima beres” kalau mereka bilang. Di antara candaan Handayani dan Lissa, sebenarnya mereka saling menyimpan keresahan yang sama. Apakah suatu hari nanti, putri-putri mereka akan ikut seperti mereka. Terkadang mereka malu sendiri ketika anak mereka bertanya, “Ibu kerja apa?” atau saat anak mereka ditanyai guru mereka soal pekerjaan orang tua. Atau bahkan pertanyaan yang pasti tak mampu mereka jawab, “Ayah di mana?”. Mereka tak pernah siap dengan semua itu.
Jika memang benar hidup adalah pilihan seperti yang orang-orang bijak berpenampilan necis katakan di dalam televisi, mereka tentu akan memilih untuk hidup biasa saja. Punya keluarga yang harmonis dan pekerjaan yang tentu lebih manis. Pembantu rumah tangga atau bahkan buruh cuci pun tak apa, asalkan bukan yang seperti sekarang ini. Untuk sekarang pun, mereka masih mengharapkan hal itu. Andai saja ada satu kesempatan untuk mempertaruhkan hidup mereka agar dapat hidup normal tanpa harus bersolek bedak tiap malam, sudah pasti mereka pertaruhkan semuanya pada taruhan itu. Apa pun rela mereka gadai demi kata “Normal” di masyarakat. Namun untuk sekarang, mereka hanya pasrah, menjalani hidup tidak normal yang harus mereka biasakan. Mungkin satu tahun lagi, atau sepuluh tahun lagi, atau bahkan sampai mati, mereka hanya pasrah. Bagi mereka, roda tak berputar. Roda sedang macet. Yang mereka resahkan sehari-hari pun hanyalah sekedar perkara besok bisa makan atau tidak. Jika kata ulama bahwa hidup itu harus tawakal, kalau mereka mendengarnya, mereka hanya tertawa. Mereka terlalu profesional dalam hal itu.
Kalau saja sedang ramai sedikit, hari itu pula pasti akan habis. Untuk bedak, peralatan tempur memikat, dan bayar ini itu ke preman setempat. Belum lagi kalau ada pemeriksaan. Mereka harus merogoh uang lebih, agar dapat perlindungan untuk tidak ikut bermalam di sel tahanan. Malam itu mereka sangat sepi. Tak satu pun hidung belang datang membawa uang meminta kasih sayang. “Sedang harmonis di rumah mungkin.” Kelakar mereka setiap kali sedang sepi pembeli. “Pekerjaan seperti ini sangat susah promosinya.” Kelakar kembali keluar, lalu mereka tertawa lagi.
Kini Lissa sedang di atas ranjang, mengelus-elus rambut panjang putrinya yang sedang bermain boneka usang. Sembari ia menyanyikan tembang-tembang Jawa untuk pengantar tidur putrinya. Mungkin karena suara merdu Lissa atau mungkin karena lelahnya, kini putrinya mulai terlelap anteng dalam pelukan Lissa. Lissa hanya tersenyum pahit, membayangkan betapa lapar putrinya seharian ini. Hanya makan sepotong roti warung. Menetes air matanya yang semakin erat mendekap putrinya. Kini harapannya bukan lagi besok ramai atau pun dapat lotere lagi, melainkan “Besok harus lebih baik lagi.”
Matahari pagi sudah menyelinap masuk melalui sela-sela dinding tripleks yang sudah bolong. Menghangatkan pelukan Lissa ke putrinya. Hal selanjutnya yang biasa Lissa lakukan adalah bangun lebih dulu, membeli sarapan untuk putrinya, mendadani putrinya setelah selesai mandi, dan melepasnya untuk bersekolah. Iya, bersekolah mungkin adalah hal yang bisa membuat hari esok lebih baik lagi. Jika benar ada Tuhan yang mengatur segalanya, dan aku yang bekerja seperti ini digariskan, meskipun tak diizinkan, pasti Tuhan punya garis yang lebih baik esok hari. Bukan untukku pun tak apa, asal itu untuk putriku- Zahra. Begitu pikiran Lissa.
Deru suara motor mendekati rumah Lissa dan kemudian berhenti tepat di depan rumah. Suara ketukan pintu membangunkan Lissa dari tidurnya siang itu di tikar di ruang tamu. Lissa beranjak dari tidurnya dan mengikat rambut panjangnya seraya berjalan membukakan pintu. Didapatinya seorang lelaki berumur tiga puluhan yang memakai peci dan baju koko putih berdiri tersenyum di depannya. Ormas mana lagi ini? Batin Lissa. Dipersilahkannya masuk dan dituntun menuju ruang tamu. Ia duduk bersila di depan Lissa. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar darinya selain senyum yang terus-terusan ia pasang.
            “Aku Hartadi.”
            “Hartadi?” Tanya Lissa sembari mengingat-ingat nama familier itu di kepalanya.
            “Iya, anak pak Jali.”
            “Pak Jali?” Nama yang kembali familier di ingatannya.
            “Tetanggamu dulu, di Tuban.”
Tuban, adalah kata terakhir yang ingin Lissa dengar di telinganya setelah kata mati. Itu adalah tempatnya tinggal dulu. Tempat ia menghabiskan masa kecil dan mudanya sebagai gadis paling cantik di kampungnya. Tempat di mana dunianya masih teramat baik-baik saja. Sebelum perjodohan yang dipaksakan merenggut semua kebebasan dan kebaik-baik sajaan itu darinya. Seketika, semua hal yang ia ingat dari Tuban yang selama ini ia coba lupakan terpancar jelas di pikirannya. Pak Jali, tetangga samping rumah yang sering memberinya buah mangga di depan rumahnya kepada Lissa saat pohonnya berbuah. Lalu Hartadi, remaja laki-laki yang sering bermain dengannya di persawahan belakang desa, remaja laki-laki yang paling dekat dengannya. Lelaki yang dianggapnya sebagai bocah karena umurnya terpaut lima tahun darinya. Meskipun dianggapnya sebagai bocah, tetapi Hartadi adalah satu-satunya hal yang ia sukai dari Tuban di masa lalunya. Dan kini masa lalunya sudah sedewasa ini, bertamu membawa semua ingatan hanya dengan kata Tuban yang keluar dari mulutnya.
            “Oh! Iya, Hartadi, dik Har kan?”
            “Iya, syukurlah mbak mengingatnya.” Sahutnya tersenyum.
            “Ada perihal apa bertamu sejauh ini?”
Hartadi diam sejenak, sebelum akhirnya menjawabnya. “Mbak masih ingat omonganku sore itu? Dua puluh tiga tahun yang lalu, di terminal.”
Pertanyaan yang nyaris membuat Lissa tersedak ludahnya sendiri. Ia kembali teringat akan semua hal dan percakapan di terminal sore itu. Saat ia sudah mantap meninggalkan kampungnya demi kabur dari perjodohan.
            “Kamu yakin, mbak Mi?”
            “Sangat yakin, dik!”
            “Lalu aku bagaimana, mbak Mi?”
            “Kamu lakukan saja apa yang kamu suka, dik. Sudah tidak ada urusannya denganku.”
            “Tapi aku-“
Belum sempat Hartadi melanjutkan kalimatnya, teriakan kondektur bus sudah menyelanya. Membuat Suratmi berjalan meninggalkan Hartadi yang hanya berdiri. Suratmi sudah masuk, duduk di bangku bus dengan menggenggam erat ikatan rafia di kardusnya. Air matanya leleh. Ia tak berani menoleh ke jendela. Ia terlalu takut melihat wajah Hartadi yang berdiri di bawah jendelanya. Hingga akhirnya bus itu perlahan melaju. Lalu Hartadi berlari di samping jendela. Matanya pun melelehkan air mata. Saat bus hendak melewati gerbang terminal, ia berteriak sekuat tenaga.
“Aku akan menikahimu! Aku mencintaimu, Suratmi!”
Suratmi semakin deras saja mengucurkan air matanya mendengar teriakan Hartadi itu.
Kini, teriakan itu kembali segar berdengung di kepalanya, seolah Hartadi yang sedari tadi hanya tersenyum itu kini tengah berteriak keras di hadapannya. Air mata sudah leleh dari matanya. Hartadi, remaja yang berteriak akan menikahinya kini sedang duduk di hadapannya. Lalu sebuah ketukan pintu menyadarkan Lissa dari tangisnya. Suara dari Zahra membuatnya mengusap air matanya. Buru-buru ia berdiri dan menghampiri Zahra. Memeluknya dengan erat, lalu menoleh ke Hartadi yang masih saja tersenyum. Lalu Hartadi mendekat dan mengelus rambut Zahra.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar