Senin, 02 Desember 2019

Untuk Kamu


UNTUK KAMU, JODOHKU
Teruntuk kamu, yang saat ini sedang duduk denganku di teras rumah pagi-pagi sekali, sambil menikmati teh hangat buatanmu. Saat kamu baca surat ini aku tengah menggenggam erat tangan keriputmu dengan gemetaran. Aku hanya ingin menyampaikan tiga hal saja kepadamu.

Pertama, aku ingin meminta maaf atas semua sikap egoisku. Maafkan masa mudaku yang terlalu sering membuatmu mengalah dengan apa-apa yang menjadi sifat burukku. Maafkan tanganku yang pernah melepasmu karena hanya tergoda rayuan mantanku. Maafkan kepalaku yang terkadang diisi banyak wanita. Maafkan lisanku sore itu, ketika aku memakimu di depan rumahku, ketika aku sedang tak ingin diganggu. Padahal aku tahu, saat itu kamu hanya butuh pelukanku saat ayahmu sakit keras. Maafkan kebodohanku, kekasih. Maafkan egoku. Dan maafkan aku, Tuhan, aku tak begitu becus menjaga bidadari surga-Mu.
Kedua, aku ingin berterimakasih atas semua hal yang pernah kamu lakukan kepadaku. Terima kasih telah mengisi benakku yang sudah mulai pikun ini dengan semua senyumanmu setiap pagi, dengan tangisan kita saat orang tua kita wafat, dengan setiap senja yang kita lewati bersama di beranda rumah kita. Terima kasih hari itu, saat kamu menolongku yang sedang tersesat mencari jalan, hari di mana kita pertama kali bertemu. Sungguh, aku tak pernah percaya dengan ‘kebetulan’ di dunia ini. Semuanya sudah digariskan begitu adanya. Terima kasih, kamu tak cuek saat itu. Terima kasih, kamu tak pernah menyerah akan ku. Terima kasih pula, Tuhan, mempercayakan salah satu bidadari surga-Mu.
Dan yang terakhir, aku ingin meminta tolong. Di sisa umurku yang mungkin tinggal beberapa fajar ini. Tolong temani hari-hariku. Tolong mekarkan senyum itu terus. Tolong genggam erat tanganku saat kita tidur. Tolong, Tuhan, dalam sisa umurku yang barang sekejap di dunia ini, tolong izinkan aku menjadi suami dari istriku yang sebenar-benarnya Kau kehendaki aku untuk itu. Tolong, pertemukan kita lagi, di surga-Mu.
Kekasih, kita berhasil melewatinya. Aku mencintaimu.



Aku, yang tak pernah sempurna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar